Hosting Unlimited Indonesia

Friday, 27 January 2017

Cacing Tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale)

Cacing tambang merupakan nematoda yang hidup sebagai parasit pada usus manusia. Cacing ini termasuk kelas Nematoda dan tergolong dalam filum Nemathelmintes. Dua spesies utama cacing tambang yang menginfeksi manusia adalah Necator americanus dan Ancylostoma duodenale.
Manusia merupakan hospes definitif dari cacing tambang. Cacing ini hidup dalam usus halus terutama di daerah jejunum. Pada infeksi berat, cacing dapat tersebar sampai ke kolon dan duodenum. Cacing dewasa hidup di rongga usus halus dengan mulut yang besar melekat pada mukosa dinding usus.
Ukuran Ancylostoma duodenale sedikit lebih besar dari Necator americanus. Cacing dewasa jantan berukuran 5-11 mm x 0,3-0.45 mm dan cacing betina 9-13 mm x 0,35-0,6 mm. Bentuk badan Necator americanus biasanya menyerupai huruf S, sedangkan Ancylostoma duodenale menyerupai huruf C. Rongga mulut kedua jenis cacing ini besar. Necator americanus mempunyai benda kitin, sedangkan Ancylostoma duodenale ada dua pasang gigi.
Telur cacing tambang berbentuk oval, tidak berwarna dan berukuran 40 x 60 mikron. Dinding luar dibatasi oleh lapisan vitelline yang halus, di antara ovum dan dinding telur terdapat ruangan yang jelas dan bening. Telur yang baru keluar bersama tinja mempunyai ovum yang mengalami segmentasi 2, 4, dan 8 sel. Bentuk telur Necator americanus tidak dapat dibedakan dari Ancylostoma duodenale. Jumlah telur per-hari yang dihasilkan seekor cacing betina Necator americanus sekitar 9.000-10.000, sedangkan pada Ancylostoma duodenale 10.000-20.000 butir.
Siklus Hidup Necator americanus dan Ancylostoma duodenale)
Telur cacing tambang dikeluarkan bersama tinja dan berkembang di tanah. Dalam kondisi kelembaban dan temperatur yang optimal, telur akan menetas dalam 1-2 hari dan melepaskan larva rhabditiform yang berukuran 250-300 μm. Setelah dua kali mengalami perubahan, akan terbentuk larva filariform. Perkembangan dari telur ke larva filariform adalah 5-10 hari. Kemudian larva menembus kulit manusia dan masuk ke sirkulasi darah melalui pembuluh darah vena dan sampai di alveoli. Setelah itu larva bermigrasi ke saluran nafas atas yaitu dari bronkhiolus ke bronkus, trakea, faring, kemudian tertelan, turun ke esofagus dan menjadi dewasa di usus halus.
Kerusakan jaringan dan gejala penyakit dapat disebabkan oleh larva maupun cacing dewasa. Larva menembus kulit dan membentuk maculopapula dan eritem, sering disertai rasa gatal yang hebat, disebut ground itch atau dew itch. Sewaktu larva berada dalam aliran darah dalam jumlah banyak atau pada orang yang sensitif dapat menimbulkan bronkitis atau bahkan pneumonitis.
Gejala Necator americanus dan Ancylostoma duodenale)
Gejala yang disebabkan oleh infeksi cacing tambang stadium dewasa tergantung pada spesies, jumlah cacing, dan keadaan gizi penderita. Tiap cacing Necator americanus menyebabkan kehilangan darah sebanyak 0,005-0,1 cc sehari, sedangkan Ancylostoma duodenale 0,08-0,34 cc. Pada infeksi kronik atau infeksi berat terjadi anemia hipokrom mikrositer. Disamping itu juga terdapat eosinofilia. Cacing tambang biasanya tidak menyebabkan kematian tetapi dapat membuat daya tahan tubuh berkurang dan prestasi kerja turun.
Diagnosis Necator americanus dan Ancylostoma duodenale)
Diagnosis dapat ditegakkan dengan mengidentifikasi telur cacing tambang dalam sampel tinja menggunakan mikroskop. Untuk penilaian kuantitatif, berbagai metode seperti Kato-Katz dapat digunakan. Untuk membedakan spesies Necator americanus dan Ancylostoma duodenale dapat dilakukan biakan dengan cara Harada-Mori.


Tuesday, 24 January 2017

Cacing Cambuk (Trichuris trichiura) - Gejala, Pencegahan dan Siklus Hidup

Cacing cambuk (Trichuris trichiura) merupakan nematoda usus penyebab penyakit trikuriasis. Trikuriasis adalah salah satu penyakit cacing yang banyak terdapat pada manusia. Diperkirakan sekitar 900 juta orang pernah terinfeksi dengan cacing ini. Penyakit ini sering dihubungkan dengan terjadinya kolitis dan sindrom disentri pada derajat infeksi sedang.
Manusia merupakan hospes definitif dari Trichuris trichiura. Cacing ini terutama dapat ditemukan di sekum dan appendiks, tetapi juga dapat ditemukan di kolon dan rektum dalam jumlah yang besar. Cacing cambuk tidak membutuhkan hospes perantara untuk tumbuh menjadi bentuk infektif.
Cacing betina panjangnya kira-kira 5 cm, sedangkan cacing jantan kira-kira 4 cm. Bagian anterior langsing seperti cambuk, panjangnya kira-kira 3/5 dari panjang seluruh tubuh. Bagian posterior bentuknya lebih gemuk dan cacing betina bentuknya membulat tumpul, sedangkan pada cacing jantan melingkar dan terdapat satu spikulum. Cacing dewasa hidup di kolon asendens dan sekum dengan satu spikulum dengan bagian anteriornya yang seperti cambuk masuk ke dalam mukosa usus. Seekor cacing betina diperkirakan menghasilkan telur setiap hari antara 3.000-20.000 butir. Telur berbentuk seperti tempayan dengan semacam penonjolan yang jernih pada kedua kutub. Kulit telur bagian luar berwarna kekuning-kuningan dan bagian dalamnya jernih.

Siklus Hidup Trichuris trichiura
Telur yang keluar bersama tinja merupakan telur dalam keadaan belum matang (belum membelah) dan tidak infektif. Telur ini perlu pematangan pada tanah selama 3-5 minggu sampai terbentuk telur infektif yang berisi embrio di dalamnya. Manusia mendapat infeksi jika telur yang infektif ini tertelan. Selanjutnya di bagian proksimal usus halus, telur menetas, keluar larva, menetap selama 3-10 hari. Setelah dewasa, cacing akan turun ke usus besar dan menetap dalam beberapa tahun. Jelas sekali bahwa larva tidak mengalami migrasi dalam sirkulasi darah ke paru-paru.
Mekanisme pasti bagaimana cacing cambuk menimbulkan kelainan pada manusia tidak diketahui, tetapi paling tidak ada 2 proses yang berperan, yaitu trauma oleh cacing dan efek toksik. Trauma pada dinding usus terjadi karena cacing ini membenamkan bagian kepalanya pada dinding usus.
Pada infeksi yang ringan, kerusakan dinding mukosa usus hanya sedikit. Infeksi cacing ini memperlihatkan adanya respons imunitas humoral yang ditunjukkan adanya reaksi anafilaksis lokal yang dimediasi oleh IgE, akan tetapi peran imunitas seluler tidak terlihat. Terlihat adanya infiltrasi lokal eosinofil di submukosa dan pada infeksi berat ditemukan edema. Pada keadaan ini mukosa akan mudah berdarah, namun cacing tidak aktif menghisap darah.
Pada infeksi berat, terutama pada anak, cacing tersebar diseluruh kolon dan rektum. Kadang-kadang terlihat di mukosa rektum yang mengalami prolapsus akibat mengejannya penderita pada waktu defekasi.
Gejala Trichuris trichiura
Hanya infeksi yang berat yang menyebabkan gejala antara lain :
1.      Nyeri perut dan diare
2.      Perdarahan usus
3.      Anemia
4.      Penurunan berat badan dan peradangan usus buntu (apendisitis)
5.      Kadang rektum menonjol melewati anus (prolapsus rektum), terutama pada anak-anak atau wanita dalam masa persalinan.
Diagnosis Trichuris trichiura
Infeksi Trichuris trichiura ditegakkan dengan menjumpai telur dalam feses ataupun cacing dewasa pada feses. Pemeriksaan yang direkomendasikan adalah pemeriksaan sampel feses dengan teknik hapusan tebal kuantitatif Kato-Katz. Metode ini dapat mengukur intensitas infeksi secara tidak langsung dengan menunjukkan jumlah telur per gram feses.
Pencegahan Trichuris trichiura
Untuk mencegah terjadinya penyakit ini perlu diperhatikan hal-hal sebagai berkut:
a.       Gunakan jamban yang bersih
b.      Tingkatkan kebersihan individu
c.       Hindari sayuran yang belum dicuci bersih.


Monday, 23 January 2017

Cacing Gelang (Ascaris lumbricoides) - Pencegahan, Gejala dan Diagnosis

Cacing Gelang (Ascaris lumbricoides)_ Pencegahan, Gejala dan Diagnosis
Ascaris lumbricoides merupakan nematoda terbesar (cacing gelang) yang hidup sebagai parasit pada usus manusia. Cacing betina berukuran lebih besar dari cacing jantan. Ukuran cacing betina dewasa mencapai 20-35 cm dan cacing jantan dewasa 15-30 cm. Cacing dewasa hidup di rongga usus halus. Seekor cacing betina dapat bertelur 100.000-200.000 butir sehari.
Pada pemeriksaan tinja penderita, dapat ditemukan telur cacing. Ada tiga bentuk telur yang mungkin ditemukan, antara lain :
1.   Telur yang dibuahi, berbentuk bulat atau oval dengan dinding telur yang kuat, terdiri dari 3 lapis.
2. Telur yang mengalami dekortikasi adalah telur yang dibuahi, akan tetapi kehilangan albuminoidnya.
3.   Telur yang tidak dibuahi, mungkin dihasilkan oleh betina yang tidak subur atau terlalu cepat dikeluarkan oleh betina yang subur.
Dalam lingkungan yang sesuai, telur yang dibuahi berkembang menjadi bentuk infektif dalam waktu kurang lebih 3 minggu. Bentuk infektif tersebut bila tertelan manusia, menetas di usus halus. Larvanya menembus dinding usus halus menuju pembuluh darah atau saluran limfe, lalu dialirkan ke jantung, kemudian mengikuti aliran darah menuju ke paru. Larva di paru menembus dinding pembuluh darah, lalu dinding alveolus, masuk rongga alveolus, kemudian naik ke trakea melalui bronkiolus dan bronkus. Dari trakea larva menuju faring, sehingga menimbulkan rangsangan pada faring. Penderita batuk karena rangsangan tersebut dan larva akan tertelan ke dalam esofagus, lalu menuju ke usus halus. Di usus halus larva berubah menjadi cacing dewasa. Sejak telur matang tertelan sampai cacing dewasa bertelur diperlukan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
Gejala Klinis Ascariasis
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi diantaranya beratnya infeksi, keadaan umum penderita, daya tahan, dan kerentanan penderita terhadap infeksi cacing.
a)   Pada infeksi biasa, penderita mengandung 10-20 ekor cacing, sering tidak ada gejala yang dirasakan oleh hospes, baru diketahui setelah pemerikasaan tinja rutin atau karena cacing dewasa keluar bersama tinja.
b)   Pada penderita Ascariasis yang berada di paru. Pada orang yang rentan terjadi perdarahan kecil pada dinding alveolus dan timbul gangguan pada paru yang disertai dengan batuk, demam, eosinofilia. Pada foto toraks tampak infiltrat. Pada kasus ini sering terjadi kekeliruan diagnosis karena mirip dengan gambaran TBC, namun infiltrat ini menghilang dalam waktu 3 (tiga) minggu setelah diberikan obat cacing pada penderita. Keadaan ini disebut sindrom Loeffler. Gangguan yang disebabkan oleh cacing dewasa biasanya ringan. Kadang-kadang penderita mengalami gejala gangguan usus ringan seperti mual, nafsu makan berkurang, diare atau konstipasi.
Faktor Risiko Lingkungan:
1)      Kurangnya higienitas modern dan infrastruktur sanitasi
2)      Penggunaan tinja manusia sebagai pupuk
3)      Tinggal di iklim yang hangat atau mengunjungi daerah dengan iklim yang hangat
4)      Pajanan lingkungan luar ketika terkena tanah atau debu yang mengandung telur
Metode Standar untuk Mendiagnosis Ascariasis
Mengidentifikasi telur Ascaris lumbricoides dalam sampel tinja menggunakan mikroskop. Karena telur mungkin sulit ditemukan pada infeksi ringan, maka dianjurkan untuk menggunakan prosedur konsentrasi. Bila prosedur konsentrasi tidak tersedia, pemeriksaan sediaan langsung pada spesimen dapat dilakukan untuk mendeteksi infeksi sedang sampai berat. Untuk penilaian kuantitatif, berbagai metode seperti Kato-Katz dapat digunakan. Selain itu stadium larva dapat diidentifikasi dalam dahak atau aspirasi lambung selama fase migrasi paru.
Pencegahan Penyakit Ascariasis
Agar penyakit Askariasis tidak terjadi kita dapat melakukan upaya pencegahan dengan cara antara lain :
a.       Tidak sembarangan buang air besar atau buang tinja,
b.      menghindari sayuran mentah,
c.       serta mengkonsumsi air yang benar benar bersih.

Sunday, 22 January 2017

Jenis-Jenis Cacing Parasit dalam Tubuh Manusia

            Soil Transmitted Helminths (STH) adalah nematoda usus yang dalam siklus hidupnya membutuhkan tanah untuk proses pematangan. Cacing ini ditularkan melalui telur cacing yang dikeluarkan bersamaan dengan tinja orang yang terinfeksi. Di daerah yang tidak memiliki sanitasi yang kurang baik (tidak adanya MCK), telur ini akan mencemari tanah. Empat spesies yang paling umum menginfeksi manusia adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuristrichiura), dan cacing tambang antropofilik (Necator americanus dan Ancylostomaduodenale).

Kejadian infeksi STH terutama menyebabkan gejala kronis, dampak berbahaya pada kesehatan dan kualitas hidup penderita yang terinfeksi, di bandingkan dengan tingkat mortalitas yang diakibatkannya. Infeksi intensitas berat dapat mengganggu pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif yang merupakan penyebab defisiensi mikronutrien termasuk anemia defisiensi besi yang mengarah pada prestasi sekolah yang buruk dan ketidakhadiran pada anak-anak, penurunan produktivitas kerja pada orang dewasa dan kehamilan yang merugikan.

Tuesday, 17 January 2017

Penyebab, Gejala dan Pencegahan Batu Ginjal

Apa Itu Batu Ginjal ?
batu ginjal merupakan suatu keadaan terdapat satu atau lebih batu di dalam pelvis atau calyces ginjal atau di saluran kemih. Batu ginjal didalam saluran kemih (kalkulus uriner) merupakan batu yang terbentuk disepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Batu bisa terbentuk didalam ginjal (batu ginjal) maupun didalam kandung kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis (litiasis renalis, nefrolitiasis).
Jenis-Jenis Batu Ginjal ?
            Batu ginjal mempunyai banyak jenis nama dan kandungan zat penyusunnya yang berdeda-beda. Ada empat jenis utama dari batu ginjal yang masing-masing cenderung memiliki penyebab yang berbeda, diantaranya :
1.      Batu Kalsium
Sekitar 75 % sampai 85 % dari batu ginjal merupakan kalsium. Batu ini biasanya kombinasi dari kalsium dan oksalat, timbul jika kandungan zat itu terlalu banyak didalam urin, selain jumlah berlebih vitamin D, menyebabkan tubuh terlalu banyak menyerap kalsium.
2.      Batu Asam Uric
Batu ini terbentuk dari asam uric, produk sampingan dari metabolisme protein.
3.      Batu Struvite
Kebanyakkan ditemukan pada wanita, batu struvite biasanya diakibatkan infeksi saluran kencing kronis, disebabkan bakteri. Batu ini jika membesar akan menyebabkan kerusakan serius pada ginjal.
4.      Batu Cystine
Batu cystine merupakan mewakili sekitar 1 % dari batu ginjal. Ditemukan pada orang dengan kelainan genetik, sehingga ginjal kelebihan jumlah asam amino.
Penyebab Batu Ginjal ?
Terbentuknya batu bisa terjadi karena air kemih jenuh dengan garam-garam yang dapat membentuk batu atau karena air kemih kekurangan penghambat pembentukan batu yang normal. Sekitar 80% batu terdiri dari kalsium, sisanya mengandung berbagai bahan, termasuk asam urat, sistin dan mineral struvit. Batu struvit (campuran dari magnesium, amonium dan fosfat). Karena batu ini hanya terbentuk di dalam air kemih yang terinfeksi. Ukuran batu bervariasi, mulai dari yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang sampai yang sebesar 2,5 cm atau lebih. Batu ini bisa mengisi hampir keseluruhan pelvis renalis dan kalises renalis.

Gejala Batu Ginjal ?
Umumnya batu ginjal sudah terbentuk tanpa disadari. Karena pada awal terbentuknya batu ginjal tidak memberikan gangguan atau gejala. Akan tetapi ketika batu ginjal memberikan gejala, maka gejala yang timbuh adalah sebagai berikut.
a)      Adanya darah dalam urin. Hal ini terjadi karena batu ginjal dapat melukai dinding uretra.
b)      Adanya infeksi pada urin , infeksi ini akan memberikan sensasi rasa nyeri ketika buang air besar.
c)      Frekuensi buang air kecil meningkat
d)     Adanya rasa nyeri akibat batu ginjal, hal ini akan memberikan rasa sakit pada sisi perut.
e)      Rasa sakit yang luar biasa pada pinggang bawah baik satu sisi maupun keduanya.
f)       Nyeri dirasakan sampai ke pangkal paha.
g)      Rasa meriang atau demam seperti gejala flu.
h)      Mual dan muntah.
i)        Warna air kencing keruh.
j)        Bau air kencing yang lebih menyengat.
k)      Rasa panas atau terbakar saat kencing.
Gejala diatas sebenarnya tidak terlalu spesifik untuk menentukan adanya batu ginjal sebab gejala karena infeksi saluran kencing pun memberikan gejala yang serupa. Untuk itu diharapkan bila anda merasakan kumpulan gejala diatas, sebaiknya anda segera ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Cara Pencegahan Batu Ginjal ?
Tindakan pencegahan pembentukan batu tergantung kepada komposisi batu yang ditemukan pada penderita. Batu tersebut dianalisa dan dilakukan pengukuran kadar bahan yang bisa menyebabkan terjadinya batu di dalam air kemih. Jika dilakukan dengan rutin dan bersungguh-sungguh, beberapa tips di bawah ini (sedikit banyak) dapat membantu agar tubuh tidak mudah diserang penyakit. Tips-tipsnya sangat sederhana dan mudah dilakukan antara lain:
1)      Pola makan yang seimbang kandungan gizinya. Pola food combaining sangat efektif untuk mencegah berbagai macam penyakit.
2)      Pola olah raga yang teratur sesuai berat badan dan jenjang usia
3)      Pola pikiran positif (manejemen pikiran) agar terhindar dari stress.
4)      Pola hidup yang sehat dan seimbang.
5)      Pola istirahat yang cukup.
6)      Pola bernapas dalam yang benar dan teratur.
7)      Mengkonsumsi banyak air putih 8-10 gelas perhari merupakan Cara sederhana mencegah penyakit batu ginjal namun tidak semua orang sama akan kebutuhan air.
Namun buat anda yang telah terdiagnosa menderita batu ginjal. Maka tindakan pencegahan khusus perlu dilakukan agar tidak terjadinya pembentukan batu baru. Metode dan cara pencegahan dilakukan tergantung kepada komposisi (kadar) batu yang pernah diderita sebelumnya antara lain :
a)      Jika anda pernah menderita batu kadar asam urat maka pencegahan yang harus anda lakukan adalah mengurangi jenis-jenis makanan yang yang banyak mengandung purin seperti ikan sarden, jeroan, hati, otak, kerang dan makanan lainnya yang tinggi purin karena jenis makanan ini bisa meningkatkan kadar asam urat dalam tubuh.
b)      Jika anda pernah menderita batu kalsium maka pencegahan pembentukan batu ginjal baru. Dianjurkan untuk melakukan Diet rendah kalsium serta mengonsumsi natrium selulosa fosfat, dan juga berikan kalium sitrat untuk meningkat kan kadar Sitrat. Sitrat adalah zat yang berguna untuk menghambat pembentukan batu kalsium. Menghindari makanan yang tinggi kadar oksalat. Oksalat adalah zat penyokong terjadinya batu kalsiun. Jenis-jenis makanan yang kaya oksalat seperti : Makanan dari coklat, bayam, pada teh, merica dan jenis kacangan.



SELALU JAGA KESEHATAN ANDA


KESEHATAN ADALAH NIKMAT YANG TAK TERNILAI

Wednesday, 11 January 2017

Definisi, Penyebab, Pencegahan, Gejala dan Pemeriksaan Batu Empedu

Apa itu Batu Empedu ?
Batu empedu merupakan timbunan kristal di dalam kandung empedu atau di dalam saluran empedu. Batu empedu merupakan gabungan beberapa unsur dari cairan empedu yang mengendap dan membentu suatu material mirip batu didalam kandung empedu atau saluran empedu. komponen utama dari cairan empedu yaitu bilirubin, garam empedu, fosfolipid dan kolestrol. Batu yang bisa ditemukan didalam kandung empedu bisa berupa batu kolestrol, batu pigmen (coklat atau hitam), atau campuran. 

            Batu empedu yang ditemukan pada kandung empedu di klasifikasikan berdasarkan bahan pembentuknya sebagai batu kolesterol, batu pigmen dan batu campuran. Lebih dari 90 % batu empedu adalah kolesterol (batu yang mengandung > 50% kolesterol) atau batu campuran ( batu yang mengandung 20-50% kolesterol). 10 % sisanya adalah batu jenis pigmen, yang mana mengandung <20% kolesterol. Faktor yang mempengaruhi pembentukan batu antara lain adalah keadaan stasis kandung empedu, pengosongan kandung empedu yang tidak sempurna dan kosentrasi kalsium dalam kandung empedu.
Patofisiologi Batu Empedu ?
Batu kandung empedu merupakan gabungan material mirip batu yang terbentuk di dalam kandung empedu. Pada keadaan normal, asam empedu, lesitin dan fosfolipid membantu dalam menjaga solubilitas empedu. Bila empedu menjadi bersaturasi tinggi (supersaturated) oleh substansi berpengaruh (kolesterol, kalsium, bilirubin), akan berkristalisasi dan membentuk nidus untuk pembentukan batu. Kristal yang terbentuk dalam kandung empedu, kemudian lama kelamaan tersebut bertambah ukuran, beragregasi, melebur dan membentuk batu. Factor motilitas kandung empedu dan biliary stasis merupakan predisposisi pembentukan batu campuran.
Penurunan fungsi kandung empedu
Menurunnya kemampuan kontraksi dan kerusakan dinding kandung empedu, memudahkan seseorang menderita batu empedu. Kontraksi kandung empedu yang melemah akan menyebabkan stasis empedu. Stasis empedu akan membuat musin yang di produksi di kandung empedu terakumulasi seiring dengan lamanya cairan empedu tertampung dalam kandung empedu. Musin tersebut akan semakin kental dan semakin pekat sehingga semakin menyulitkan proses pengosongan cairan empedu. Bila daya kontraksi kandung empedu menurun dan di dalam kandung empedu tersebut sudah ada Kristal, maka Kristal tersebut tidak akan dapat dibuang keluar ke duodenum. Beberapa kondisi yang dapat menganggu daya kontraksi kandung empedu, yaitu hipomotilitas, parenteral total (menyebabkan aliran empedu menjadi lambat), kehamilan, cedera medulla spinalis dan diabetes melitus.
Penyebab Batu Empedu ?
Penyebab utama munculnya batu empedu diduga akibat adanya ketidakseimbangan antara kolesterol dan senyawa kimia dalam cairan empedu. Serpihan kristal yang terbentuk akan berkembang menjadi batu dan biasanya dalam waktu bertahun-tahun.
Penimbunan senyawa kimia yang umumnya terdapat dalam kantong empedu saat batu tersebut terbentuk adalah kolesterol dan bilirubin (limbah dari penghancuran sel darah merah). Hampir 80 persen batu empedu berbahan dasar kolesterol dan sekitar 20 persen berbahan dasar bilirubin. Bilirubin adalah suatu pigmen yang ditemukan dalam cairan empedu.
Ukuran batu empedu yang terbentuk juga bermacam-macam. Ada yang sekecil butir pasir dan ada yang sebesar bola pingpong. Begitu juga dengan jumlahnya. Ada orang yang hanya memiliki satu buah batu dan ada yang lebih.
Kemungkinan munculnya batu empedu berbeda-beda pada tiap orang. Secara spesifik, wanita berisiko dua kali lebih tinggi dibandingkan pria. Terutama wanita yang pernah hamil, mengonsumsi pil KB atau menjalani terapi hormon berdosis tinggi.
Faktor-Faktor Resiko Batu empedu ?
Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena batu empedu antara lain:
a.       Faktor usia. Risiko penyakit batu empedu akan bertambah seiring usia. Penyakit ini umumnya dialami orang yang berusia di atas 40 tahun.
b.      Jenis kelamin. Risiko wanita untuk terkena penyakit batu empedu dua kali lebih tinggi dibandingkan risiko pria.
c.       Dampak melahirkan. Wanita yang pernah melahirkan memiliki risiko lebih tinggi. Penyebabnya mungkin karena meningkatnya kadar kolesterol akibat perubahan hormon selama masa kehamilan.
d.      Pengaruh berat badan. Risiko Anda akan meningkat jika mengalami kelebihan berat badan atau penurunan berat badan.
e.       Memiliki anggota keluarga dengan penyakit yang sama.
f.       Kekurangan serat dalam pola makan.
g.      Penderita diabetes.
h.      Penderita  sirosis
i.        Penderita gangguan pencernaan misalnya  penyakit crohn dan sindrom iritasi usus.
j.        Orang yang menggunakan  ceftriaxone yaitu antibiotik yang dapat digunakan untuk mengobati pneumonia, meningitis, dan gonore
Batu empedu diduga terbentuk akibat pengerasan kolesterol yang tertimbun dalam cairan empedu. Kita sebaiknya menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang serta menghindari konsumsi makanan yang mengandung lemak dan kolestrerol tinggi antara lain:
1)      Makanan bersantan seperti rendang, kolak, serta ketupat sayur.
2)      Makanan berminyak seperti gorengan.
3)      Makanan yang terbuat dari kacang-kacangan seperti sambal kacang atau kuah sate.
4)      Kue dan camilan keripik.
Gejala Batu Empedu ?
Gejala Batu Empedu bermacam-macam antara lain :
Rasa sakit ini dapat terjadi pada beberapa bagian perut. Di antaranya adalah bagian tengah perut atau di atas, kanan perut. Rasa sakit ini juga bisa menyebar ke sisi tubuh atau tulang belikat. Gejala yang akan muncul antara lain:
a.       Dapat muncul kapan saja.
b.      Dapat berlangsung selama beberapa menit sampai berjam-jam.
c.       Tidak akan berkurang meski sudah ke toilet, kentut, atau muntah.
d.      Frekuensi kemunculannya jarang tapi bisa dipicu oleh makanan dengan kadar lemak yang tinggi.
Jika batu empedu menyebabkan penyumbatan pada salah satu saluran pencernaan, gejala yang akan muncul antara lain:
1)      Sakit perut yang terus-menerus atau selalu kembali.
2)      Demam tinggi.
3)      Sakit kuning
4)      Detak jantung yang cepat.
5)      Gatal-gatal pada kulit.
6)      Kehilangan nafsu makan.
7)      Mual dan muntah.
Pemeriksaan Batu Empedu ?
Pemeriksaan Fisik
            seseorang dengan stadium litogenik atau batu asimptomatik tidak memiliki kelainan dalam pemeriksaan fisik. Selama serangan kolik bilier, terutama pada saat kolelitiasis akut, seseorang akan mengalami nyeri palpasi / nyeri tekan dengan punktum maksimum didaerah letak anatomis kandung empedu. Adanya tanda murphy positif apabila nyeri tekan bertambah sewaktu penderita menarik nafas panjang  karena kandung empedu yang meradang tersebtuh ujung jari tangan pemeriksa dan penderita berhenti manarik nafas.
Pemeriksaan Laboratorium
            Batu empedu yang asimtomatik umumnya tidak menunjukan kelainan pada pemeriksaan laboratorium. Apabila terjadi peradangan akut, dapat terjadi lekositosis. Apabila terjadi sindrom mirizzi, akan ditemukan kenaikan ringan bilirubin serum akibat penekanan duktus koledokus oleh batu. kadar bilirubin serum yang tinggi mungkin disebabkan oleh batu didalam duktus koledokus. kadar fosfatase alkali serum dan mungkin juga kadar amylase serum biasanya meningkat sedang setiap kali terjadi serangan akut.

SELALU JAGA KESEHATAN ANDA

KESEHATAN ADALAH NIKMAT YANG TAK TERNILAI